Monday, 22/12/2014 | 8:36 UTC+7
InfoBogor
InfoBogor

Tanaman Ghat Beredar Bebas di Kawasan Puncak

Tanaman Ghat Beredar Bebas di Kawasan Puncak

Zat kimia yang dikonsumsi dua dari tujuh orang positif narkoba di kediaman Raffi Ahmad hingga kini masih diteliti. Zat tersebut belum masuk dalam regulasi obat terlarang di Indonesia, meskipun sejumlah negara sudah melakukannya. Bagaimana para peserta pesta narkoba itu mendapatkan zat tersebut juga masih dikembangkan.

Zat kimia itu masuk dalam barang bukti kapsul yang disita pihak BNN. Serbuk dalam kapsul tersebut dilarutkan dalam minuman bersoda sebelum dikonsumsi. Tim laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, zat tersebut memiliki nama ilmiah 3,4 methylenedioxy methcathinone alias cathinone (katin).

Umumnya, narkoba yang banyak beredar adalah methylenedioxy methamphetamine (MDMA), atau yang dikenal sebagai ekstasi. Jenis zat kimia itu sudah ditetapkan sebagai zat terlarang di Indonesia. Untuk 3,4 methylenedioxy methcathinone, belum banyak negara yang menetapkannya sebagai zat terlarang. Kasus yang paling banyak ditemui pun ada di Amerika Serikat dan Singapura.

Tapi perlu diketahui, zat cathinone ternyata juga dikandung oleh tanaman Khat atau banyak juga yang menyebut Ghat. Tanaman ini biasa dikonsumsi orang Timur Tengah. Nah, sebagai ‘makhtab’ Timur Tengah di Indonesia, ternyata tanaman Ghat beredar bebas di kawasan Puncak, Cisarua. “Kebanyakan penikmatnya adalah turis-turis dari Negara Yaman,” ujar sumber Radar Bogor.

Untuk mendapatkan Ghat, turis Timur Tengah kudu merogoh kocek antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per satu kantong plastik. Tak ada ukuran pasti dalam jual beli tanaman ini.

Turis asal Yaman yang biasa mencari Ghat di Puncak. Setelah di genggaman, mereka biasa mengonsumsi Ghat hingga dua kantong plastik dalam sehari.

Ghat juga biasa disebut dengan istilah teh Arab. Namun, Ghat dikonsumsi bukan seperti teh, melainkan seperti orang menyepah sirih. Pucuk Ghat dikunyah-kunyah, tanpa bahan campuran apa pun. Kemudian ditahan dalam mulut selama sekitar 2,5 jam, sebelum “ampasnya” dibuang. Efek stimulan dari mengunyah (chewing) pucuk Ghat, disebabkan oleh adanya kandungan zat katin (cathine), yakni alkaloid jenis phenethylamine, dalam pucuk tanaman.

Sekadar informasi, cathine dalam pucuk daun khat dikategorikan sebagai psikotropika (zat narkoba), hingga di beberapa negara, termasuk di Arab Saudi, penanaman dan penggunaan tanaman ini dilarang.

Beberapa negara mengizinkan budidaya dan penggunaan ghat, dengan pengawasan ketat di bawah supervisi World Health Organization (WHO).

“Rasanya kesat. Efek yang ditimbulkan itu tahan lapar, tahan haus, tahan capek, dan bersemangat terus. Kuat begadang juga mereka,” paparnya.

Bagi penggunanya, Ghat lebih seperti doping untuk menjaga stamina mereka fit sepanjang hari. Masih menurut sumber tersebut, bagi orang turis Arab di Puncak, aktivitas kehidupan mereka menjadi terbalik dengan orang normal.

Akibat terbiasa di cuaca yang sangat panas di siang hari, mereka kerap mulai beraktivitas di malam hari. Sedangkan pagi hingga sore lebih banyak dihabiskan dengan tidur. Untuk bisa kuat terjaga di malam hari, mereka mengonsumsi Ghat.

“Katanya sih begitu. Terbalik jam kerjanya. Mereka butuh doping biar kuat melek di malam hari,” kata dia. Awalnya tanaman ini tumbuh liar di kawasan Puncak. Namun, karena banyak pihak mengetahui manfaat Ghat yang bisa menjadi pundi-pundi rupiah, tanaman ini pun menjadi komoditas perkebunan. Biasanya kebun Ghat berpetak-petak seluas 500 meter persegi. Jual beli pun terbatas pada pemesan, yang mayoritas adalah orang-orang Yaman.

Seperti apa tumbuhan Ghat? Tamanan ini sejenis perdu berkayu setinggi mulai dari 1,5 meter sampai dengan dua meter. Sepintas tanaman ini seperti pohon beringin dalam ukuran bonsai. Yang menjadi konsumsi adalah bagian pucuk daun yang bertekstur lembut dan berwarna kemerah-merahan.

Menurutnya, tanaman ini bahkan sudah terkenal di kalangan turis Arab sejak 15 tahun ke belakang. Namun tanaman ini tak pernah booming sebagai narkoba atau doping, karena sedikit masyarakat awam yang mengetahuinya. Sebelumnya, orang Arab di kawasan Empang yang banyak memperjualbelikan tanaman ini. Sebelum warga lokal mengetahui manfaat dan nilai jualnya.

Namun, bagi orang Arab modern, mengonsumsi tanaman ini dianggap sebagai aktivitas yang menjijikan. Orang yang mengonsumsi Ghat, dianggap orang Arab udik atau old fashion. Lantas, bagaimana kandungan Ghat bisa sampai ke dalam kapsul yang diduga dikonsumsi Raffi Ahmad Cs. Sumber tadi menduga, ada permainan di kalangan orang-orang berduit belakangan ini. Mereka mencari narkoba sebagai doping, dalam bentuk yang aman dan bebas dari jerat hukum. “Jika itu benar, berarti ada semacam upaya jaringan pembuat doping untuk melegalkan narkoba jenis ini,” tukasnya.

Zat katin dalam Ghat baru tersebut memiliki pengaruh yang mendekati atau sama seperti MDMA. Humas BNN Soemirat Dwiyanto menyatakan, pihaknya masih akan mengoordinasikan soal temuan zat baru itu ke Kementerian Kesehatan dan Badan POM. “Tolong dicatat, zat baru itu berbeda dengan MDMA,” ujarnya.

Saat ditanya perihal kemungkinan jerat hukum terkait kepemilikan zat baru itu, Soemirat tidak bersedia berkomentar. Dia hanya mengatakan, bakal mengoordinasikannya dengan pihak terkait mengingat zat tersebut belum masuk dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Sumber: Radar Bogor

1 Comment

  1. busunk
     /  Reply

    ini terlalu berlebihan..
    sangat banyak tumbuh-tumbuhan yg membuat tak sadarkan diri
    contoh: daun kecubung, jamur tai kebo (biasa di sebut mushroom) dan lain-lain…
    apakah ini akan di buatkan pasal juga?

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

InfoBogor adalah sebuah media online yang menempatkan dirinya di tengah-tengah kesibukan warga Bogor yang terus mengembangkan dirinya.